Dalam rangka menyambut dan memuliakan bulan Muharram 1448 Hijriah, masyarakat Dusun Ngujung, Desa Sambisirah Wonorejo Pasuruan Jawa Timur, kembali melestarikan tradisi pembuatan Jenang Suro pada tanggal 8 Suro 1448 H. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur dan masih dijaga dengan penuh khidmat hingga saat ini.
Jenang Suro bukan sekadar hidangan tradisional, melainkan memiliki makna mendalam sebagai simbol rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga, menumbuhkan semangat kebersamaan, serta mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga nilai-nilai keagamaan dan budaya yang telah diwariskan oleh generasi terdahulu.
Pada pelaksanaannya, warga bergotong royong menyiapkan bahan-bahan, memasak jenang bersama, kemudian membagikannya kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan tampak mewarnai kegiatan tersebut. Tradisi ini juga menjadi momentum untuk berdoa bersama agar diberikan keselamatan, keberkahan, kesehatan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan di tahun yang baru.
Di tengah derasnya arus modernisasi, keberlangsungan tradisi Jenang Suro di Dusun Ngujung patut diapresiasi. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pelestarian budaya lokal yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Dengan terus menjaga dan mengenalkan tradisi ini kepada generasi muda, diharapkan warisan luhur para pendahulu tidak akan hilang ditelan zaman.
Melalui tradisi Jenang Suro, masyarakat Dusun Ngujung tidak hanya merayakan datangnya bulan Muharram, tetapi juga meneguhkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur kepada Allah SWT. Semoga tradisi yang penuh makna ini senantiasa lestari dan menjadi sumber keberkahan bagi seluruh masyarakat Desa Sambisirah dan sekitarnya. Aamiin.




Komentar
Posting Komentar